Selasa, 25 Juni 2013

EKSPEDISI LAWU



            Minggu pagi, 17 tahun yang lalu...  Seperti biasa kami berkumpul untuk mengikuti pelatihan pencinta alam di sekolah.  Aji, seorang seniorku mengawali pertemuan dengan sebuah berita yang sangat kami tunggu.
              Teman-teman, proposal kegiatan Ekspedisi Lawu kita, telah di setujui pihak sekolah.  Rencananya kita akan berangkat pada saat libur sekolah nanti.  Jadi mulai sekarang kita sudah harus menyiapkan fisik, mental dan pengetahuan survival kita untuk itu “ begitu seniorku menjelaskan, yang langsung disambut sorak soraiku dan anggota HIMPPAS (Himpunan Pelajar Pecinta Alam Semesta).
            Mungkin seandainya lagu Ayu Ting-ting saat itu telah beredar kami akan menyanyikan lagu sik asik sebagai ungkapan kegembiraan.  Namun sebenarnya ada kekhawatiran juga, pasalnya ayahku sulit sekali untuk diminta ijinnya.  Selama ini aku selalu berangkat tanpa ijin dan ujung-ujungnya selalu berbuah masalah.  Semoga kali ini aku bisa berangkat.
            Sesampainya di rumah, kucoba untuk menyampaikan keinginanku mengikuti kegiatan pendakian ke Gunung Lawu di Jawa Tengah.  Tapi, seperti dugaanku jawabannya adalah “ TIDAK!”.  Hwuaaaa....ingin rasanya aku menangis layaknya anak kecil seandainya hal itu bisa membuat orangtuaku memberikan ijinnya.  Hmm...kayaknya aku harus mencari akal agar aku bisa berangkat. 
            Mengikuti kegiatan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit, dari mana aku bisa mendapatkannya kalau aku tidak diijinkan.  Berbagai rayuan kulakukan untuk mendapatkan ijin ayahku sambil menyisihkan sebagian besar uang jajanku, namun, tidak berhasil juga.  Ah! Aku menemukan sebuah ide, aku akan minta ijin untuk pergi berkemah.  Yeah..! Pasti diijinkan.
            Hari keberangkatanpun tiba.  Semoga saja bekal yang kubawa cukup.  Kulakukan cek dan ricek pada barang bawaanku, dan setelah yakin sudah lengkap semua kami pun berangkat menuju stasiun kereta api.
            Saat itu rombongan kami terdiri dari tiga orang wanita dan enam orang pria dan satu diantaranya seorang pria ganteng, cool, berkulit kuning bernama Aries.  Mahluk yang satu ini banyak menjadi incaran para wanita, karena wajah tampan dan sifat cool-nya, tidak terkecuali kami yuniornya.he.he.he.  Untunglah aku tidak dianggap wanita oleh mereka jadi....aku bisa dekat dan menikmati wajahnya sepuasku hi.hi.hi.
            Oh iya, berhubung waktu itu musim liburan sudah bisa diduga kereta banyak yang terlambat datang sehingga kami terpaksa menunggu cukup lama.  Tidak itu saja, kereta penuh sesak hingga kami terpaksa duduk di toilet yang tidak terpakai.  Bayangkan...toilet yang kotor dan berbau pesing. Hoek!!..rasanya perut ini seperti diaduk-aduk.  Wah, lebih baik aku duduk di selasar gerbong saja.  Selonjor saja sulit! 
Malam itu perjalanan terasa panjang, belum lagi ditambah pedagang asongan yang berlalu lalang.  Hwuaaa...pengalaman yang benar-benar tidak terbayangkan buat aku si anak mami.  Baru juga memejamkan mata sedikit, eh ada orang yang colek-colek tanganku, dan  ternyata cuma pedagang asongan yang menawarkan dagangannya.  Uhhh...gimana bisa istirahat?? Syukurlah setelah memakan waktu dua belas jam lebih, akhirnya kami sampai di Stasiun Solo.  Perjalanan kami lanjutkan menuju Karang Anyar menggunakan bis KOPAJA.  Lagi-lagi... si ganteng memilih duduk denganku. “Asiikk ,“ batinku dalam hati sambil kedip-kedipan dengan temanku Kukuh, yang berharap duduk dengan si ganteng.  Tahu tidak?? Ternyata orang ganteng itu kalau lagi tidur wajahnya tidak ada bedanya dengan yang wajahnya pas-pasan.  Sama-sama lucu.
            Setibanya di Karang Anyar kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan truk pengangkut sayuran.  Mau tau gimana rasanya?  Wow... amazing! Buat aku yang lahir dan besar di kota Jakarta, ini adalah angkutan yang paling asik..!  Duduk di atas tumpukan sayuran di temani para petani dan pedagang kecil, melewati jalan yang berkelok-kelok.  Luar biasa!!.
 perbatasan jawa tengah dan jawa timur

            Sekitar pukul 10.00 kami sampai di pos pendataan.  Setiap pendaki yang akan melakukan kegiatan di Gunung Lawu harus melapor terlebih dahulu pada petugas dan melakukan ritual semacam ijin pada pemilik tempat.  Kami dipesan untuk tidak berkata apa-apa bila kami melihat atau mendengar sesuatu.  Dimulailah petualangan penuh horor kami.  Kejadian-kejadian di luar akal mulai kami alami.  Saat malam merambat naik... aku berteriak takut karena tiba-tiba saja sesosok binatang dengan mulut menyala seperti bara api lewat di depanku.
 Persiapan pendakian
              Sssst....jangan berkata apa-apa!” begitu perintah salah satu green ranger ( penjaga hutan ) yang mendampingi kami.  Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos dua.  Konon katanya, ini adalah kawah yang sebenarnya dari Gunung Lawu.  Aku merasakan seperti ada yang memanggil-manggil namaku, dan seperti ada bisikan yang menyuruhku menatap ke atas pos.  Kulihat seniorku Aji tiba-tiba menjadi pendiam.  Wajahnya begitu tegang.  Menurut ceritanya dia melihat mahluk seperti asap yang melayang-layang di atas shelter kemudian bergerak menuju puncak.  Kami diminta untuk tidak berlama-lama di pos ini.   Tiba-tiba... beberapa anggota tim kami terserang diare hebat dan tidak mampu melanjutkan perjalanan.  Terpaksa kami membagi tim ini menjadi dua dengan masing-masing tim ditemani seorang green ranger.  Aku dan beberapa orang teman melanjutkan perjalanan ke puncak, sementara temanku yang lainnya nge-camp sampai kondisinya membaik. 
            Perjalanan kami kali ini benar-benar penuh ujian, setelah tim kami terpaksa dipecah, perjalanan kami juga seperti diputar-putar tanpa arah.  Setelah kami melewati lembah yang disebut orang dengan sebutan “ Pasar Setan ”, beberapa kali kami melalui puncak palsu, sampai akhirnya kakiku sudah tidak kuat lagi melangkah.  Aku menyerah dan pasrah, meskipun rekan-rekanku meninggalkan aku disini... aku pasrah. Rasanya kakiku sudah tak kuat meneruskan perjalanan.  Mungkin ini akibat aku tidak jujur pada orangtuaku tentang perjalanan ini. 
Melihat aku yang terduduk lemas, teman-temanku terus menyemangatiku dan menuntunku dengan sabar.  Dibawakannya tasku, sementara teman yang lain menggandeng tanganku. Tiba-tiba, temanku yang bernama Ronald memanggilku ke atas dan memberitahu bahwa dia sudah sampai di puncak asli.  Yeahh!!!  Hampir tak percaya, semua rasa letihku sirna begitu saja, dan aku pun bergegas menuju puncak. 
Indahnya matahari terbit membuat rasa letihku menguap begitu saja. Subhanallah..! aku serta merta bersujud mengagumi semua nikmat ini, tak ada satupun lukisan yang mampu menandinginya.  Gumpalan awan yang ada di bawah kami turut menyempurnakan indahnya karunia Allah Azza wa jalla.
 matahari terbit di puncak lawu
Indahnya hamparan awan putih

            Esok paginya rombongan kedua pun tiba dan giliran kami yang turun sebelum kabut naik.  Namun, tiba-tiba seolah ada suara yang berasal dari dasar jurang yang memanggil-manggilku.  Akupun menoleh, di bawah sana aku melihat sosok pria dan wanita berkerudung disertai seorang anak melambaikan tangan dan memanggilku.  Aku mencoba memberitahu Kak Aji dan teman-teman yang lain, tapi tidak satupun yang dapat melihat selain aku.  Sontak saja bulu kudukku merinding dan aku segera berlari turun. 
Sesampainya di pos dua, teman-temanku kehabisan air dan segera mencari mata air terdekat.  Mereka menemukan sebuah kolam kecil yang terdapat mata air, kemudian mengisi jerigen air mereka dan menambahkan nutrisari sebelum meminumnya, “ Ahh...suegerr!” kata mereka menikmati.  “ Wah mereka tidak tahu kalau semalem air itu dipake untuk membersihkan kotoran sehabis buang air besar..., hiyyy ” kataku dalam hati.  Untunglah persediaan airku masih banyak sehingga aku tidak harus meminum air yang menjijikkan itu.  Sebenernya hati ini ingin memberitahu tapi tidak tega karena mereka sudah terlanjur meminumnya.  Bismillah aja deh.  Kamipun beristirahat untuk makan siang sebentar, semangkuk indomie panas dengan kornet serta sate sosis menemani makan siang kami.  Kami memang jarang sekali membawa makanan berat dalam setiap ekspedisi kami.  Menu wajib kami adalah gula batu, telur ayam kampung, susu, coklat, roti dan mie, serta makanan instan ringan seperti bubur bayi.
Pukul 13.00 WIB kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami, dan tiba di pos masuk pukul 15.00 WIB.  Sayangnya dalam ekspedisi itu kami kehilangan salah satu ranger kami, terakhir kami melihatnya pada saat dia memutuskan untuk mengambil jalan pintas melewati jurang.  Kami pun berkumpul untuk mendoakan keselamatannya, setelah itu kami bermalam di salah satu rumah Pak Wo.  Suasana pedesaan dan pegunungan yang dingin membuat kami tidak mampu memejamkan mata, terlebih mengingat nasib penjaga hutan yang hilang.
Esoknya kami melanjutkan perjalanan pulang melalui kota Yogyakarta.  Kami bermalam di rumah Pakdeku di daerah Stasiun Tugu.  Berjalan-jalan hemat mengelilingi Mallioboro, oh..  penuh kenangan dan canda.
Pagi itu kami bersiap pulang setelah berpamitan dengan Pakde dan Bude.  Rencananya kami akan menggunakan kereta Fajar ekonomi tujuan jakarta.  Oleh karena itu kami benar-benar mempersiapkan fisik kami agar kami bisa menikmati serba-serbi kereta ekonomi.  Kami nikmati perjalanan panjang kami dengan riang, seraya mengingat kembali semua peristiwa yang kami alami selama ekspedisi ini.  Selamat tinggal Lawu...Keindahan panoramamu dan ragam warna Eudelweismu tak akan pernah kami lupakan.  Hanya di sanalah kami menjumpai Eudelweis dengan empat warna dan keindahannya.  Semoga suatu saat kami bisa mengunjungimu kembali.

  Janganlah kau mengambil sesuatu di gunung kecuali gambarnya. Janganlah meninggalkan sesuatu di gunung kecuali jejak kakimu dan kenangannya.  Jangan pula kau jumawa dan sesumbar di gunung, maka niscaya perjalananmu akan selamat”.



Biodata Deskriptif
SRI RAHAYU
                Sri rahayu, seorang sarjana pertanian yang punya hobi eksperimen masakan dan jalan-jalan.  Ibu dari dua orang anak lelaki yang luar biasa ini sebenarnya belum pernah menelurkan satu cerpen atau artikel apapun.  Namun semangat untuk menulis sudah dimulai sejak bangku sekolah sebagai penulis spesialisasi naskah pidato sekolah, pantun dan karya ilmiah.  Beberapa karya ilmiahnya pernah diterbitkan di jurnal kampus dan menjadi liputan disalah satu surat kabar di Jawa Timur pada tahun 2000.  Untuk lebih mengenalnya dapat dihubungi melalui e-mail: sri_rahayu_sp@yahoo.com. Atau di akun FB saya Sri rahayu.